Hikmah Ibadah Haji, Zakat, dan Wakaf dalam Kehidupan
Assalamualaikum Wr. Wb
Nama : Muhammad Darien Syahizidane
Kelas : X MIA 1
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Guru : Ibu Rizka Susilawati
No Absen : 22
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Guru : Ibu Rizka Susilawati
No Absen : 22
Hallo teman-teman apa kabar hari ini?, Semoga baik-baik saja. Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang ibadah Haji, Zakat, dan Waqaf. Tolong disimak baik-baik yaaa!!!.
1. Haji
A. Pengertian Haji
Kata haji berasal dari bahasa Arab yang artinya menyengaja atau menuju.
Maksudnya adalah sengaja mengunjungi Baitullah (Ka’bah) di Mekah
untuk melakukan ibadah kepada Allah Swt. pada waktu tertentu dan
dengan cara tertentu secara tertib. Adapun yang dimaksud dengan waktu
tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari bulan Syawal sampai
sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Puncak pelaksanaan ibadah haji pada
tanggal 9 Zulhijah yaitu saat dilangsungkannya ibadah wukuf di padang
Arafah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mabit di
Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.
Menurut istilah, haji adalah sengaja mengunjungi Ka’bah dengan niat
beribadah pada waktu tertentu dengan syarat-syarat dan dengan cara-cara
tertentu pula. Haji juga diartikan menyengaja ke Mekah untuk menunaikan
ibadah thawaf, sa’i, wukuf di Arafah dan menunaikan rangkaian manasik
dalam rangka memenuhi perintah Allah Swt. dan mencari ridha-Nya.
B. Hukum Haji
Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Hukum melaksanakan ibadah haji
adalah wajib bagi yang mampu melaksanakannya, sebagaimana dijelaskan
dalam al-Qur’ān surat Ali Imran ayat 97. Allah Swt. berfirman:
adalah wajib bagi yang mampu melaksanakannya, sebagaimana dijelaskan
dalam al-Qur’ān surat Ali Imran ayat 97. Allah Swt. berfirman:
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam
Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia;
mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi)
orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa
mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran/3:97)
C. Syarat dan Rukun Haji
Syarat haji terbagi ke dalam dua bagian, yaitu syarat wajib haji dan syarat sah
haji. Syarat haji ialah perbuatan-perbuatan yang harus dipenuhi sebelum
ibadah haji dilaksanakan. Apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi,
gugurlah kewajiban haji seseorang. Para ulama ahli fikih sepakat bahwa
syarat wajib haji adalah sebagai berikut.
1) Islam
2) Berakal (tidak gila)
3) Baligh
4) Ada muhrimnya
5) Mampu dalam segala hal (misalnya dalam hal biaya, kesehatan,
keamanan, dan nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan)
Sedangkan Syarat sah haji adalah sebagai berikut.
1) Islam
2) Baligh
3) Berakal
4) Merdeka.
Adapun rukun haji adalah perbuatan-perbuatan yang harus dilaksanakan
atau dikerjakan sewaktu melaksanakan ibadah haji. Maka apabila ditinggal-
kan, ibadah hajinya tidak sah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut.
1) Ihram
Ihram adalah berniat mengerjakan
ibadah haji atau umrah yang di-
tandai dengan mengenakan
pakaian ihram yang berwarna putih
dan membaca lafadz, “Labbaika
Allahumma hajjan.” (bagi yang
akan melaksanakan ibadah haji),
dan membaca lafadz, “Labbaika
Allahumma umratan.” (bagi yang
berniat umrah).
Ibadah haji dan umrah harus
diawali dengan ihram. Apabila dengan sengaja jamaah miqat tanpa
ihram, maka dia harus kembali ke salah satu miqat untuk berihram.
Apabila jamaah telah berihram, maka sejak itu berlaku semua larangan
ihram sampai tahallul.
2) Wukuf
Wukuf, yaitu hadir di padang
Arafah pada tanggal 9 Djulhijjah
dari tergelincirnya matahari
hingga terbenam. Wukuf adalah
bentuk pengasingan diri yang
merupakan gambaran bagaimana
kelak manusia dikumpulkan di
padang Mahsyar. Wukuf di Arafah
merupakan saat yang tepat untuk
mawas diri, merenungi atas seperti
yang pernah dilakukan, menyesali
dan bertaubat atas segala dosa
yang dikerjakan, serta memikirkan seperti yang akan dilakukan untuk
menjadi muslim yang taat kepada Allah Swt.
Selama wukuf perbanyaklah berzikir, tahmid, tasbih, tahlil, dan istighfar.
Berdoalah sebanyak mungkin, karena doa yang kita panjatkan dengan
ikhlas dan khusyu’ akan dikabulkan oleh Allah Swt.
Wukuf yang dicontohkan Rasulullah saw. diawali dengan shalat
berjama’ah dzuhur dan ashar dengan jama’ takdim qashar. Setelah
itu, dilanjutkan dengan khutbah guna memberikan bimbingan wukuf,
seruan-seruan ibadah, dan memanjatkan doa kepada Allah Swt.
Pelaksanaan wukuf di Arafah hanya terjadi sekali dalam setahun, yaitu
setelah matahari tergelincir (melewati pukul 12 siang) pada tanggal 9
Dzulhijjah bila pada waktu tersebut jamaah tidak wukuf, maka hajinya tidak sah.
3) Thawaf
Thawaf adalah berputar menge-
lilingi Ka’bah dan dilakukan secara
berlawanan dengan arah jarum jam
dengan posisi Ka’bah di sebelah kiri
badan. Thawaf dimulai dari Hajar
Aswad dan diakhiri di Hajar Aswad
pula, dilakukan sebanyak tujuh kali
putaran.
Para ulama sepakat bahwa thawaf
ada tiga macam, yaitu:
a) Thawaf Qudum, yaitu thawaf
yang dilakukan ketika jamaah
haji baru tiba di Mekah.
b) Thawaf Ifadhah, yaitu thawaf
yang dilakukan pada hari qurban
setelah melontar jumrah
aqabah. Inilah thawaf yang
wajib dilakukan pada waktu
haji. Apabila ditinggalkan, maka
hajinya batal.
c) Thawaf Wada’, yaitu thawaf
perpisahan bagi jamaah yang
akan meninggalkan Mekah.
4) Sa’i
Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan bukit Marwah
sebanyak tujuh kali yang dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit
Marwah. Sa’i dilakukan setelah pelaksanaan ibadah thawaf.
Syarat sah sa’i
Syarat sah sa’i adalah sebagai berikut.
a) Dilakukan sebanyak tujuh kali
putaran (berawal di bukit Shofa
dan berakhir di bukit Marwah)
b) Dilakukan setelah thawaf ifad-
hah atau setelah thawaf qudum.
c) Menjalani secara sempurna ja-
rak Shofa-Marwah dan Marwah-
Shofa.
d) Dilakukan di tempat sa’i.
5) Tahallul
Tahallul adalah mencukur atau
memotong rambut kepala sebagian
atau seluruhnya minimal tiga helai
rambut. Tahallul dilakukan setelah
melontar jumrah aqabah pada
tanggal 10 Dzulhijjah, yang disebut
dengan tahallul awwal. Setelah
jamaah melakukan tahallul awal
ini larangan-larangan haji kembali
dibolehkan kecuali berhubungan
suami isteri. Tahallul tsani dilakukan
setelah thawaf ifadhah dan sa’i.
6) Tertib
Tertib yaitu berurutan dalam pelaksanaan mulai ihram hingga tahallul.
D. Jenis Haji
1) Haji Tamattu’
Haji tamattu’ yaitu melaksanakan umrah terlebih dahulu kemudian
menggunakan pakaian ihram lagi untuk melaksanakan manasik haji.
2) Haji Ifrad
Haji ifrad adalah berihram dan berniat dari miqat hanya untuk
haji. Dengan kata lain, mengerjakan haji terlebih dahulu kemudian
mengerjakan umrah.
3) Haji Qiran
Haji qiran adalah melaksanakan haji dan umrah dengan satu kali ihram.
E. Keutamaan Haji
1) Haji merupakan amal yang paling utama
2) Haji merupakan jihad
3) Haji menghapus dosa
4) Pahala ibadah Haji adalah surga.
A. Pengertian Zakat
Zakat menurut bahasa (lughat) artinya tumbuh, suci, dan berkah. Menurut
istilah, zakat adalah pemberian yang wajib diberikan dari harta tertentu,
menurut sifat-sifat dan ukuran kepada golongan tertentu.
Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam dan disebutkan secara
beriringan dengan kata salat pada 82 ayat di dalam al-Qur’ān. Allah Swt.
telah menetapkan hukum wajib atas zakat sebagaimana dijelaskan di
dalam Al-Qur’ān, Sunnah Rasul, dan Ijma ulama.
B. Hukum Zakat
Allah Swt. telah menetapkan hukum wajib atas zakat sebagai salah satu
dari lima rukun Islam yang disebutkan di dalam al-Qur’ān. Hal tersebut
sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’ān., Sunnah Rasul-Nya, dan ijma’
para ulama.
Di dalam al-Qur’ān Surat Al-Baqarah ayat 43 Allah Swt. berfirman:
1) Syarat zakat yang berhubungan dengan subjek atau pelaku (muzakkī :
orang yang terkena wajib zakat) adalah sebagai berikut.
a) Islam,
b) Merdeka
c) Baligh
d) Berakal.
2) Syarat-syarat yang berhubungan dengan jenis harta (sebagai objek zakat)
adalah sebagai berikut.
a) Milik penuh
b) Berkembang
c) Mencapai nisab
d) Lebih dari kebutuhan pokok
e) Bebas dari hutang
f) Berlaku setahun / haul
D. Hikmah dan keutamaan ibadah Zakat
Hikmah Zakat
3. Wakaf
Zakat menurut bahasa (lughat) artinya tumbuh, suci, dan berkah. Menurut
istilah, zakat adalah pemberian yang wajib diberikan dari harta tertentu,
menurut sifat-sifat dan ukuran kepada golongan tertentu.
Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam dan disebutkan secara
beriringan dengan kata salat pada 82 ayat di dalam al-Qur’ān. Allah Swt.
telah menetapkan hukum wajib atas zakat sebagaimana dijelaskan di
dalam Al-Qur’ān, Sunnah Rasul, dan Ijma ulama.
B. Hukum Zakat
Allah Swt. telah menetapkan hukum wajib atas zakat sebagai salah satu
dari lima rukun Islam yang disebutkan di dalam al-Qur’ān. Hal tersebut
sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’ān., Sunnah Rasul-Nya, dan ijma’
para ulama.
Di dalam al-Qur’ān Surat Al-Baqarah ayat 43 Allah Swt. berfirman:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Artinya, “dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta
orang-orang yang ruku’.”
C. Syarat dan Rukun Zakat
orang yang terkena wajib zakat) adalah sebagai berikut.
a) Islam,
b) Merdeka
c) Baligh
d) Berakal.
2) Syarat-syarat yang berhubungan dengan jenis harta (sebagai objek zakat)
adalah sebagai berikut.
a) Milik penuh
b) Berkembang
c) Mencapai nisab
d) Lebih dari kebutuhan pokok
e) Bebas dari hutang
f) Berlaku setahun / haul
D. Hikmah dan keutamaan ibadah Zakat
Hikmah Zakat
1. Mengurangi kesenjangan sosial antara mereka yang berada dengan mereka yang miskin.
2. Pilar amal jama'i antara mereka yang berada dengan para mujahid dan da'i yang berjuang dan berda'wah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT.
3. Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk
4. Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang jahat.
5. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan
6. Untuk pengembangan potensi ummat
7. Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam
8. Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna bagi ummat.
2. Pilar amal jama'i antara mereka yang berada dengan para mujahid dan da'i yang berjuang dan berda'wah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT.
3. Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk
4. Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang jahat.
5. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan
6. Untuk pengembangan potensi ummat
7. Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam
8. Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna bagi ummat.
Keutamaan Zakat
1. Zakat merupakan salah satu sifat orang-orang baik yang menjadi penghuni Jannah. Allah Ta'ala berfirman:
2. Zakat merupakan salah satu sifat orang-orang beriman yang berhak mendapatkan rahmat Allah.
3. Wakaf
Pengertian Wakaf
- Wakaf adalah Sedekah Jariyah, yakni menyedekahkan harta kita untuk kepentingan ummat. Harta Wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Karena wakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah atas nama ummat.
Dasar Hukum Wakaf
- Berdasarkan Al-Qur’an & Sunnah
- Di antara hadis yang menjadi dasar dan dalil wakaf adalah hadis yang menceritakan tentang kisah Umar bin al-Khaththab ketika memperoleh tanah di Khaibar. Setelah ia meminta petunjuk Nabi tentang tanah tersebut, Nabi menganjurkan untuk menahan asal tanah dan menyedekahkan hasilnya.
- Hadis tentang hal ini secara lengkap adalah; “Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan wariskan. Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, untuk memerdekakan budak, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.”
- Hadis lain yang menjelaskan wakaf adalah hadis yang diceritakan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah. Nas hadis tersebut adalah; “Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga sumber, yaitu sedekah jariah (wakaf), ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya, dan anak soleh yang mendoakannya.”
- Berdasarkan Hukum Positif
- Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 41 tahun 2004.
Syarat-syarat Wakaf
- Syarat-syarat orang yang berwakaf (al-waqif): Syarat-syarat al-waqif ada empat, pertama orang yang berwakaf ini mestilah memiliki secara penuh harta itu, artinya dia merdeka untuk mewakafkan harta itu kepada sesiapa yang ia kehendaki. Kedua dia mestilah orang yang berakal, tak sah wakaf orang bodoh, orang gila, atau orang yang sedang mabuk. Ketiga dia mestilah baligh. Dan keempat dia mestilah orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid). Implikasinya orang bodoh, orang yang sedang muflis dan orang lemah ingatan tidak sah mewakafkan hartanya.
- Syarat-syarat harta yang diwakafkan (al-mauquf): Harta yang diwakafkan itu tidak sah dipindahmilikkan, kecuali apabila ia memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan oleh ah; pertama barang yang diwakafkan itu mestilah barang yang berharga Kedua, harta yang diwakafkan itu mestilah diketahui kadarnya. Jadi apabila harta itu tidak diketahui jumlahnya (majhul), maka pengalihan milik pada ketika itu tidak sah. Ketiga, harta yang diwakafkan itu pasti dimiliki oleh orang yang berwakaf (wakif). Keempat, harta itu mestilah berdiri sendiri, tidak melekat kepada harta lain (mufarrazan) atau disebut juga dengan istilah (ghaira shai’).
- Syarat-syarat orang yang menerima manfaat wakaf (al-mauquf alaih): Dari segi klasifikasinya orang yang menerima wakaf ini ada dua macam, pertama tertentu (mu’ayyan) dan tidak tertentu (ghaira mu’ayyan). Yang dimasudkan dengan tertentu ialah, jelas orang yang menerima wakaf itu, apakah seorang, dua orang atau satu kumpulan yang semuanya tertentu dan tidak boleh dirubah. Sedangkan yang tidak tentu maksudnya tempat berwakaf itu tidak ditentukan secara terperinci, umpamanya seseorang sesorang untuk orang fakir, miskin, tempat ibadah, dll. Persyaratan bagi orang yang menerima wakaf tertentu ini (al-mawquf mu’ayyan) bahwa ia mestilah orang yang boleh untuk memiliki harta (ahlan li al-tamlik), Maka orang muslim, merdeka dan kafir zimmi yang memenuhi syarat ini boleh memiliki harta wakaf. Adapun orang bodoh, hamba sahaya, dan orang gila tidak sah menerima wakaf. Syarat-syarat yang berkaitan dengan ghaira mu’ayyan; pertama ialah bahwa yang akan menerima wakaf itu mestilah dapat menjadikan wakaf itu untuk kebaikan yang dengannya dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dan wakaf ini hanya ditujukan untuk kepentingan Islam saja.
- Syarat-syarat Shigah Berkaitan dengan isi ucapan (sighah) perlu ada beberapa syarat: Pertama, ucapan itu mestilah mengandungi kata-kata yang menunjukKan kekalnya (ta’bid). Tidak sah wakaf kalau ucapan dengan batas waktu tertentu. Kedua, ucapan itu dapat direalisasikan segera (tanjiz), tanpa disangkutkan atau digantungkan kepada syarat tertentu. Ketiga, ucapan itu bersifat pasti. Keempat, ucapan itu tidak diikuti oleh syarat yang membatalkan. Apabila semua persyaratan diatas dapat terpenuhi maka penguasaan atas tanah wakaf bagi penerima wakaf adalah sah. Pewakaf tidak dapat lagi menarik balik pemilikan harta itu telah berpindah kepada Allah dan penguasaan harta tersebut adalah orang yang menerima wakaf secara umum ia dianggap pemiliknya tapi bersifat ghaira tammah.
Cukup sekian penjelasan dari saya, bila ada salah kata mohon dimaafkan, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Terimakasih



Komentar
Posting Komentar